Merokok Ada Juga Plusnya!

•Januari 18, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh: Stevanus Christian

Wanita merokok adalah a big NO NO, semua orang tahu itu. Apalagi merokok di kala hamil! Tapi tidak fair kalau tidak ada yang menulis positifnya merokok, setidaknya di antara puluhan juta orang Indonesia yang tidak merokok ada puluhan juta juga yang kecanduan, yang tentunya akan senang membaca tulisan ini. Apa positifnya merokok?

Merasakan Jadi Orang Kaya

Robinhood mencuri dari si kaya untuk dibagi-bagikan kepada si miskin. Nah, perokok adalah ibaratnya orang kaya yang diambil duitnya oleh Robinhood (bea cukai), kalau petugas bea cukainya jujur dan mengabdi, jutaan rakyat ikut merasakan duit para perokok. Tidak bisa dipungkiri, perokok menyumbang banyak pendapatan daerah dari cukai bandrol. Selain bandrol, rokok juga menghasil pajak penghasilan yang cukup sinifikan, lihat dari pembayaran pajak terbesar di Indonesia, banyak nama di posisi 50 besar adalah dari perusahaan rokok. Belum lagi dari pendapatan pajak atas iklan yang menjamur di mana-mana. Singkat kata, karena perokok yang rela uangnya dibagi-bagi, ribuan orang merasakan manfaatnya. Konon menurut sebuah cerita dari mulut ke mulut, kota Kediri bisa tetap ada dan masyarakatnya bisa cukup makmur, karena jasa perokok Indonesia yang setia membeli “Garam”.

Mati Satu Hidup Seribu

Berapa banyak orang mati karena rokok setiap tahun? Tidak ada yang pernah melakukan studi serius soal ini karena mungkin sponsor-sponsor besar di tanah air (yang notabene pada umumnya adalah perusahaan rokok) tidak ada yang mau mendanai. Tetapi kalau kita lihat dari sisi ketenagakerjaan, jutaan orang hidup dari rokok, mulai dari buruh pekerja di pabrik rokok, para penjual rokok dari perusahaan kelas besar ala Dewi Hughes sampai penjaja rokok kurus pinggir jalan, belum lagi para pedagang asongan di pinggiran tol yang bisa mengais keuntungan dari menjual sebatang rokok (bukan satu pak), ditambah juga pemulung-pemulung yang masih bisa menguangkan ampas.

Realitanya, biar tubuh perokok mungkin akan terkena resiko kanker, tapi yang pasti perokok mengurangi jumlah kantong kering. Yang mati karena rokok, bisa jadi melebihi jumlah yang dihidupi oleh rokok.

Perusahaan Listrik Pribadi

Berapa banyak rakyat yang tidak bisa menikmati terang lampu? Kalau Anda sempat jalan di jalanan kecil di pulau Lombok atau di daerah terpencil di Jawa, atau bahkan di daerah wisata di Bali, jam-jam tujuh malam, jalanan sudah gelap gulita, tidak ada terang lampu di jalan. Apalagi kalau petugas lampu jalan tidak menjalankan tugasnya dengan baik, bolam rusak tidak diganti atau tiang lampu patah dibiarkan patah, lebih-lebih kalau lupa menyalakan lampu, gelap gulita di jalan tidak bisa dihindari.

Untungnya, kini ada banyak billboard di jalan yang terang lampunya melebihi lampu kelurahan, dari banyaknya billboard, perusahaan rokok menguasai kuantitasnya, ada puluhan ribu terpasang di jalan-jalan di Indonesia, sampai ke pelosok-pelosok terpencil. Tempat yang dulunya gelap, sekarang punya mercu suar.

Billboard bagi banyak orang juga menjadi petunjuk jalan, “Mbak, terus saja lurus, belok kiri nanti terlihat papan reklame koboi, nah rumah si Atun persis di bawahnya.” Terima kasih kepada para perokok, kini banyak jalan di Indonesia jadi terang.

Enak, PeDe, dan Gaya

Sisi positif lain ini lebih bersifat pribadi, ada yang merasa lebih PeDe karena mengepit rokok di sela jari, ada yang merasa diterima menjadi bagian dari metropolitan yang angkuh, ada juga yang merasakan enaknya sedotan demi sedotan. Itu semua adalah manfaat personal, lagi pula siapa yang mau mengeluarkan uang saku pribadi kalau tidak ada keuntungan personal?

Banyak tempat di tanah air yang masih disediakan khusus untuk para perokok, non-perokok tidak punya banyak tempat. Loh kok? Iya, non-smoking room adalah ruangan untuk bukan perokok, perokok tidak boleh masuk; tapi selain non-smoking room harusnya adalah ruang perokok, tapi karena perokok adalah baik hati, maka para non-perokok pun boleh masuk. Ini salah satu keuntungan perokok, menjadi bagian dari kelompok baik hati.

Mengatasi Bau Badan

Ada seorang wanita berkata demikian, “Aku suka merokok karena apa tau gak? Karena merokok bisa menghilangkan bau badan! Kadang pas pulang kerja, rasanya kurang pede karena bau badan kurang sedap, tapi pas dibuat merokok, bau badan jadi tertutup bau rokok!” (wo/psc)

MEROKOK … PERBUATAN ZALIM..?!

•Januari 18, 2010 • 1 Komentar

Sepulang sholat Jum’at kemaren saya membawa 1 lembar buletin Masjid, kembali artikelnya membahas tentang rokok. Rokok dan merokok…semua orang pasti tahu. Namun merokok adalah perbuatan zalim, …mungkin banyak orang yang tidak tahu. Itulah yang akan kita bahas, benarkah argumentasi buletin itu? Jangankan memikirkan bahwa merokok adalah perbuatan zalim, dari segi dampak ekonomi keluarga saja… bahkan orang tidak sadar berapa banyak uang per tahun yang harus mereka keluarkan untuk biaya rokok. Apapun tingkat ekonominya, bahkan seorang pemulung dengan rumah gerobaknya, bisa menghabiskan Rp.3 juta/tahun – hanya untuk rokok! Itu pemulung, … bagaimana dengan perokok dari kalangan ekonomi lebih mapan, mulai dari ekonomi menengah keatas atau konglomerat perokok cerutu? Hari-hari merokok habis 1 bungkus atau lebih? Berapa dana pribadi yang mereka habiskan kalau rokoknya sigaret atau Cerutu? Dampak ekonomi dapat dilihat pada : http://abrus.blogdetik.com/2009/02/04/su… Lihat saja Si Perokok yang telah berumah tangga dan punya anak telah duduk di SD, diam2 ia telah membentuk generasi asbak rokok. Bayangkan, sang anak selalu dijejali asap rokok sejak balita sampai menginjak usia 9 tahun. Si anak telah menyaksikan ratusan ribu kali sang ayah merokok. Waktu si anak di kelas 6 SD ditawari rokok oleh perokok lain, dijamin ia akan langsung akrab dengan rokok. Sebab dari bayi, bahkan sejak dalam kandungan bunda telah kenal asap rokok, sang ayah telah mengkader perokok baru. Kalau si anak kelak jadi perokok berat, tentu tidak ada yang aneh … apalagi air cucuran atap jatuhnya tidak jauh-jauh… Bisakah dikatagorikan si ayah telah menzalimi anak kandungnya sendiri..?! Coba kita renungkan, … asap rokok yang mengandung nikotin bila ditiupkan ke kapas warnanya menjadi kuning. Ambil saja, 1 batang rokok yang diisap perokok akan mengasapi paru-paru plus organ tubuh lain (+/-) 15 kali hirupan zat yang penuh racun (nikotin). Bila sehari merokok 12 batang, maka alat bernapas itu telah diracuni (+/-) 66.000 kali per tahun dan andai si perokok 45 tahun merokok, semua organ tubuh telah diracuni (+/-) 3 juta kali. Apa jadinya warna paru-paru jika selama 45 tahun diasapi sebanyak 3 juta kali? Warnanya …hitam legam! Apakah itu? … Dua kata … perbuatan zalim! … Nauzubillah minzaliq… Apa yang diuraikan buletin itu ada benarnya, …terkait dengan itu apa arti kata zalim? Menurut korsa kata, zalim adalah kejam bin kejam! Bagaimana menurutmu para dbloger… ditunggu argumennya..!

Barter Juli 2009……………….

•Agustus 18, 2009 • & Komentar

Barter memang  cara tercepat dan mudah untuk menambah koleksi rokok.

Terbukti untuk kedu  kalinya Barter pertama di tahun 2009 menambah koleksi rokokku yang tidak sedikit 50 bks macam rokok saya dapatkan dari tiga rekan kolektor yang berbeda………

Barter kiriman pertama saya dengan Cak Kandar dari Cirebon yang berjumlah 7 bungkus,maaf cak 1 lg lupa gambarnya blm di foto……..

Cak barter

Barter Cak Kandar…….

Barter kiriman  kedua saya dengan Mas Choliq dari Makasar yang berjumlah 32 bungkus, sampai saya lupa kasih kabar mas Choliq kalo kiriman udah nyampe, eh malah mas choliq yg nanyain status kirimannya jd malu.maaf mas saking senengnya jd lupa tuch………o iya mas Choliq kayanya seneng juga dapet kiriman dari saya sampai kirikin SMS…”LAIN KALI BARTER LAGI….ENAk tO..kata Mbah Surip..” saya ngga habis pikir berarti bukan hanya saya yg senang mas choliq jg…….hi hi hi hi.

Barter Juli MAs Choliq

Barter Mas Choliq 32 bungkus,,,,,,

Barter kiriman ketiga saya dengan Bang Emirza dari Jakarta, tapi ini lebih mengasyikan karena secara langsung mas Emir datang ke Bandung, ngga tangung tangung lansung ketempat kerja .sit………….

Emirza

Sebelum ketemu Bang emir hunting dulu, biasa bocoran tempat saya kasih,tapi yang paling aneh mas emir berhasil mendapatkan rokok yang belum saya koleksi padahal itu di tempat biasa saya hunting  …..bisaan euy bang emir………ya kepaksa saya minta dobelan yg baru dapet dari hunting………………..”"yang sering bang ke bandungnya biar bisa minta lagi dobelanya”"…. he he he he he………..

Nge blog lagi ah………………..

•Juli 14, 2009 • & Komentar

Ngga kerasa udah hampir tujuh bulan ini sibuk dengan pekerjaan yang tempat baru,sit koleksi ngga pernah ke sentuh udah mulai banyak debu yang menempel di atasnya,……………. Hunting ………..itu kata pertama terucapkan sembari membuka blog kolektor rekan se kolektor…………..

Mungkin dari sekian bulan yang dilalui banyak dari rekan kolektor yang bertambah koleksinya, tapi koleksi yang ada dirumahku ngga nambah jadi ter insfirasi kembali untuk terjun langsung ketempat tempat biasa hunting di sekitar bandung……..
Dan memang udah dua hari ini huntingku ngga sia sia karena banyak koleksi terbaru yang kudapatkan di tempat biasa hunting, sengaja hunting kali ini saya beli lebih untuk rekan sesama kolektor yang saya liat koleksinya belum punya jadi bisa dibuat barter nanti,,,,,,,siap siap aja Pa De, Mas Singgih, Mas Choliq,Mas Emirza,Mas Djoko,,,,,,,dlll kali aja belum ada koleksinya nanti bisa barter..

Hanya dua tempat yang dikunjungi koleksi sudah bertambah 40 buah, kebayang kalo selama 7 bulan hunting berapa banyak koleksi akan bertambah……………… AYO HUNTING TERUS………………………………..

26416

Kolektor Rokok: Menikmati Tanpa Membakar

•Maret 14, 2009 • & Komentar

Bagi sebagian orang menghisap rokok merupakan kenikmatan tersendiri. Beberapa orang bilang rokok adalah teman yang setia menemani di saat sepi, tanpa pernah mengeluh. Sebagian orang lagi mengatakan, rokok merupakan obat penghilang stres atau sumber inspirasi. Beberapa orang mempunyai pengalaman yang berbeda dengan rokok. Ada segelintir orang yang mendapatkan kenikmatan dari mengumpulkan atau mengoleksi rokok.

Salah seorang yang mempunyai kebiasaan unik itu adalah Butet Kertarajasa, seniman terkenal yang berasal dari Yogyakarta. Butet mulai serius mengoleksi rokok sekitar empat tahun yang lalu. Tapi, sebenarnya ia sudah menyukai dan mengumpulkan gambar-gambar bungkus rokok sejak kecil. Caranya, ia menggunting gambar di bungkus rokok itu, lalu menempelkannya di buku. “Kebanggaannya, punya banyak gambar,” tutur pria yang juga perokok berat ini.

Butet mulai serius mengoleksi bungkus rokok saat ia mengunjungi ke Kediri, empat tahun yang lalu. Ketika itu, ia kehabisan rokok. Saat mencari di warung-warung, ternyata rokok kesukaannya tidak ada. Yang ia temukan malah rokok yang mereknya tidak pernah ia kenal. Lantaran penasaran, Butet langsung memborong rokok-rokok tersebut. Saat perjalanan pulang dari Kediri ia masih terus memburu rokok tak terkenal itu. “Perjalanan yang seharusnya empat jam jadi delapan jam,” tambahnya. Di setiap perempatan ia berhenti untuk mencari rokok. Hasilnya? Butet menemukan 400 merek rokok rokok.

Ide dari bungkus rokok
Kolektor rokok lainnya adalah Sumbo Tinarbuko. Dosen mata kuliah Semiotika Iklan dan Penulisan Naskah Iklan di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Atmajaya Yogyakarta ini mulai mengoleksi rokok sejak tahun 1993. Sumbo juga mengumpulkan rokok-rokok yang tidak terkenal di pasaran dan harganya kurang dari Rp 5.000 per bungkus. “Saya menyebutnya rokok indie,” ujarnya.

Hobi mengoleksi rokok bermula saat Sumbo menjadi Dosen Pembimbing Lapangan Kuliah Kerja Nyata (DPL-KKN) ISI Yogyakarta, di daerah Kalibagor, Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1993. Di sana, ia menemukan rokok berbentuk sigaret kretek dengan merek “Praoe Lajar”. Rokok itu menarik perhatiannya karena desain kemasan rokok itu sangat unik.

Bagi Sumbo dan Butet hobi ini tak sekadar buang-buang duit. Manfaat koleksi rokok indie bagi Sumbo adalah membantu pekerjaan. Sumbo menjadikan gambar-gambar unik di bungkus rokok sebagai alat peraga dalam mengajar komunikasi visual. Sementara Butet mengaku sering mendapatkan ide saat memandangi koleksi rokoknya. Ia pernah menemukan rokok yang di dalam kemasannya terdapat kata-kata “Rokok ini memakai tembakau sangat canggih dan cocok untuk kaum intelektual.” Kalimat slogan ini justru memunculkan ide menulis di benak Butet.

Selama berburu rokok, Butet menjadi mahfum karakter warung penjual rokok. Warung yang bersih dan menggunakan etalase stainless steel, pasti tak menjual rokok unik. Rokok unik hanya ada di warung yang menggunakan etalase kayu. Saat ini, koleksi Butet mencapai 4.000 merek. Sedangkan Sumbo sudah mengumpulkan 600-an berbagai merek rokok.

http://menerimapesanan.wordpress.com